Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sloki/user/h25389/sites/chartapolitika.com/www/modules/mod_gk_news_highlighter/helper.php on line 320
HOT NEWS

16

Dec

2009

PDF Print E-mail
Obama, Nobel dan Dunia Islam

Arya Fernandez Barack Obama dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat belum genap satu tahun. Namun, pada tahun pertama Obama sudah berhasil mendapat penganugerahan Nobel Perdamaian. Tak sedikit yang mengkritik pemberian hadiah Nobel dari Komite Nobel Norwegia itu.

Bagi para pengkritiknya, Obama dianggap belum mumpuni meraih Nobel bergengsi itu. Mereka beralasan, dalam tahun pertama kepemimpinannya, Obama belum berbuat banyak bagi perdamaian dunia.

Namun, komite tersebut tentu mempunyai alasan lain di balik pemilihan Obama sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2009. Dalam situs resminya, Komite Nobel menganggap Obama berhasil melakukan diplomasi perdamaian dunia. Hal itu tampak dari komitmen Obama membangun dunia tanpa nuklir, menciptakan hubungan baru dengan dunia Islam, dan pembatalan sistem perisai rudal di Eropa Timur.

Rupanya gagasan diplomasi perdamaian seperti yang dilakukan Obama dan penerima Nobel lain menjadi poin penting penganugerahan Nobel. Sebelumnya, mantan Presiden Amerika Serikat dua periode, Theodore Roosevelt (1901-1909), dan mantan Perdana Menteri Uni Soviet Mikhail Gorbachev berhasil memperoleh Nobel.

Roosevelt mendapat Nobel pada 1906 karena dianggap berhasil "mengakhiri" perang Rusia-Jepang. Sedangkan Mikhail Gorbachev meraih Nobel pada 1990 karena dianggap berhasil melakukan reformasi Uni Soviet melalui program glasnot, perestroika, demokratizatsiya, dan uskoreniye yang secara tidak langsung memicu "runtuhnya" Uni Soviet.

Selain Roosevelt dan Gorbachev, mantan Presiden Otoritas Palestina Yasser Arafat yang mendapat Nobel Perdamaian pada 1994 bersama Simon Peres dan Yitzak Rabin juga dianggap berhasil melakukan diplomasi damai melalui Perundingan Oslo pada 1993.

Henry Kissinger yang berada di balik kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada 1969-1977 pada masa pemerintahan Richard Nixon juga mendapat Nobel Perdamaian pada 1973 karena diplomasi damainya. Keberhasilan fenomenal Kissinger adalah mengakhiri Perang Vietnam dan memulangkan tentara Amerika Serikat dari Vietnam.

Selain diplomasi damai, pemberian Nobel Perdamaian juga diberikan kepada tokoh yang dianggap berjasa memperjuangkan dan menegakkan hak asasi manusia. Martin Luther King Jr dan Bunda Teresa masuk dalam kategori ini.

Martin Luther King Jr mendapatkan Nobel pada 1963. Namanya meledak saat menyampaikan pidato bersejarah "I Have a Dream" di Washington DC pada 28 Agustus 1963. Dalam sejarah hidupnya, Martin teguh memperjuangkan persamaan hak antara warga kulit hitam dan putih dan memperjuangkan sikap antikekerasan dan antirasisme.

Sementara itu, Bunda Teresa memperoleh Nobel Perdamaian pada 1979 karena kesungguhannya membela kaum papa dan miskin. Bertahun-tahun Teresa rela hidup berdampingan dengan kaum miskin di permukiman kumuh di India.

Terlepas dari kritik pedas beberapa kalangan terhadap penganugerahan Nobel Perdamaian bagi doktor hukum Universitas Harvard itu, Obama telah memulai menunjukkan kesungguhan Paman Sam untuk membangun hubungan baru dengan dunia Islam melalui inisiatif damai antara Palestina dan Israel. Dalam sejumlah pernyataannya di media massa, Obama menyetujui solusi dua negara untuk mengakhiri kebekuan diplomasi Palestina-Israel.

Menurut hemat penulis, kesungguhan Paman Sam untuk memulai hubungan baru dengan dunia Islam tampaknya menjadi penilaian khusus bagi Komite Nobel. Pasalnya, bukan rahasia lagi, setelah peristiwa pengeboman World Trade Center (WTC) dan Pentagon pada Oktober 2001 silam, hubungan dunia Islam dan Amerika Serikat (AS) mengalami ketegangan.

Pada masa pemerintahan George W Bush, pendekatan militer mewarnai kebijakan luar negeri AS. Makanya, banyak kalangan menilai invasi militer atas Irak dan Afghanistan adalah puncak ketegangan hubungan AS dan dunia Islam. Namun, arah kebijakan luar negeri AS segera berubah 180 derajat setelah Obama memimpin AS. Pendekatan militer berubah menjadi pendekatan diplomasi.

Mungkin masa kecil Obama yang plural dalam banyak hal memengaruhi model diplomasi politiknya. Terlahir sebagai keturunan Afrika-Amerika mungkin membuat Obama menyadari arti pentingnya perdamaian dan keragaman budaya.

Komitmen Obama untuk memulai hubungan baru dengan dunia Islam sudah ia sampaikan saat melakukan kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat. Dalam kampanyenya, Obama berjanji akan menarik semua pasukan AS dari Irak paling lambat Agustus 2010. Kesungguhan Obama menciptakan hubungan baru AS dengan dunia Islam juga tampak dengah menunjuk George Mitchell sebagai Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah. Mitchell dikenal sebagai orang yang berhasil meredakan konflik sosial di Irlandia Utara.

Dalam pidato bersejarahnya di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, Obama makin meneguhkan pola hubungan baru dengan dunia Islam. Hal inilah yang menyebabkan dunia Islam berharap banyak agar Obama terpilih dalam pemilihan presiden. Tak mengherankan apabila hasil survei di 11 negara Arab 2008 lalu menunjukkan tingkat penerimaan dunia Arab terhadap kepemimpinan AS pada masa Obama mengalami kenaikan jika dibanding pada masa pemerintahan Bush.

Di Tunisia, misalnya, pada survei Juni 2008, tingkat penerimaan terhadap kepemimpinan Bush hanya 14 persen. Namun, mengalami peningkatan pada Maret 2009 dengan tingkat penerimaan mencapai 37 persen pada masa Obama. Aljazair dari 25 persen (Juni 2008) ke 47 persen (Maret 2009), Mesir dari 6 persen (Mei 2008) ke 25 persen (Maret 2009), dan Arab Saudi dari 12 persen (Mei 2008) ke 29 persen (Maret 2009).

Dukungan terhadap kepemimpinan Obama tak hanya mengalir dari dunia Arab. Mayoritas masyarakat AS juga mendukung kebijakan luar negeri Obama. Jajak pendapat yang dilakukan New York Times Polls dan CBC News pada 1-5 April 2009 menunjukkan 59 persen responden mendukung kebijakan luar negeri Obama. Hanya 19 persen yang tidak mendukung.

Kebijakan Obama terhadap rekonsialiasi Irak dan Afghanistan juga mendapat dukungan yang kuat. Tak kurang dari 59 persen responden mendukung kebijakan Obama terhadap Irak dan 58 persen responden mendukung kebijakan Obama terhadap Afghanistan.

Akhirnya, Meski ada pro-kontra terhadap penganugerahan Nobel bagi Obama, ia telah berbuat untuk perdamaian dunia. Melalui Obama, citra negatif tentang kepemimpinan AS di dunia Islam telah berubah.***

Sumber: Harian Suara Karya, Rabu 16 Desember 2009

Comments (2)add comment
0
WoW GOLD
written by wow gold , May 11, 2010


welcome to world of warcraft gold,wow gold

report abuse
vote down
vote up

Votes: +0

0
WoW GOLD
written by wow gold , April 24, 2010


We always wow power leveling,wow leveling

report abuse
vote down
vote up

Votes: +0


Write comment
smaller | bigger
 

busy
 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.