25 Jan 2010 |
|
| 100 rupanya pekerjaan berat bagi Istana. Dalam 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II, konsentrasi politik Istana terguras untuk menyikapi kontroversi penahanan dua pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto-Chandra M Hamzah dan polemik pengelontoran dana talangan (bail-out) sebesar 6,7 triliun bagi Bank Century. Konsentrasi pada dua isu utama ini rupanya membuat Istana tak fokus untuk merealisasikan janji-janji politiknya pada masa kampanye lalu. Padahal seharusnya Istana dapat menerjemahkan ekspektasi publik yang besar untuk serius menyikapi persoalan kesejahteraan, kemiskinan, keadilan dan penguatan demokrasi. Hasil media monitoring Charta Politika Indonesia pada 20 Oktober - 31 Desember 2009 menunjukkan mayoritas pernyataan SBY (sekita 28,6%) adalah menanggapi aliran dana Bank Century. Disusul tanggapan terhadap pelemahan KPK (27,7%), kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II (26,2%) KTT perubahan iklim (10,2%) dan program 100 hari KIB (7,3%). Anehnya, seperti Presiden, kinerja beberapa menteri juga terguras untuk menanggapi dua isu di atas. Padahal bila Istana bisa sedikit cerdik, pada tingkat komunikasi politik, Istana dapat memanfaatkan keberadaan staf ahli di lembaga kepresiden untuk menanggapi isu ini, sehingga para menteri tak perlu juga dibuat repot. Istana juga bisa memanfaatkan jasa konsultan politik profesional untuk menyiapkan agenda setting dan melakukan framing analisi, sehingga opini publik dapat "dikendalikan". Memang masih terlalu dini menilai kinerja Istana dalam 100 hari pertama pemerintahan. Namun, harapan publik yang besar terhadap kinerja Istana hendaknya bisa diterjemahkan melalui aksi nyata bukan sandiwara. (Arya Fernandes) |




Arsip artikel Charta Politika Indonesia.