02 Jul 2010 |
|
JAKARTA - Sekretariat gabungan partai koalisi pendukung pemerintahan SBY diminta tidak memotong kesepakatan pemberian hak pilih TNI lewat pembicaraan tertutup. Cara terbaik menentukan wacana ini adalah lewat survei kepada masyarakat sipil dan militer. Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengatakan penentuan hak pilih TNI tidak boleh sampai menjadi pertarungan elite politik. Yunarto mengutarakan hal itu setelah melihat kecenderungan disetujuinya wacana hak pilih oleh partai koalisi dan ditolaknya ide oleh partai oposisi dan partai baru. "Pemberian hak pilih ini berbeda karena masyarakat memiliki trauma sejarah," ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (27/6). Diungkapkannya, masih banyak hal yang harus lebih dulu diprioritaskan sebelum memberikan hak kepada TNI/Polri. Skala prioritas yang harus didahulukan, menurut Agung, adalah menuntaskan reformasi yang masih berjalan di tubuh TNI/Polri. Termasuk, memperbaiki anggaran yang layak bagi TNI/Polri sehingga TNI/Polri bisa mendapatkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang berkualitas. TNI/Polri juga harus diprioritaskan dalam hal perbaikan kesejahteraannya. indira/joko s, ed:sbt Sumber: Harian Republika, 28 Juni 2010 |



Arsip artikel Charta Politika Indonesia.